24 September 2007

Wali Kota Denpasar Puspayoga ---- Sungai bukan Tempat Pembuangan Sampah

Sungai bukanlah tempat untuk membuang sampah, namun merupakan saluran air dari hulu ke hilir. Optimalisasi fungsi sungai dalam mengalirkan air perlu dijaga sehingga kawasan di daerah aliran sungai (DAS) dan sekitarnya terhindar dari banjir. Imbauan itu ditegaskan Wali Kota Denpasar Drs. A.A. Puspayoga saat memimpin pelaksanaan gotong royong di kawasan Tukad Pendem, Minggu (23/9) kemarin.

KEGIATAN gotong royong kemarin melibatkan warga setempat bersama aparat TNI dan jajaran Pemkot Denpasar. Hadir dalam kegiatan itu di antaranya Komandan Kodim 1611 Badung Letnan Kav. Ghoib Pujiantoro, Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar Wayan Wiranata, S.H., Sekkot Denpasar Drs. Nyoman Aryana, M.Si. dan sejumlah pejabat teras di jajaran Pemkot Denpasar. Selain merupakan kegiatan rutin serangkaian peringatan HUT ke-62 TNI, aksi bersih-bersih ini juga dalam rangka menyongsong penilaian Adipura. Pelaksanaan gotong royong menyasar Banjar Dangin Tangluk, Banjar Kebon Kori Lukluk dan Banjar Kebon Kori dan dipusatkan di saluran irigasi Tukad Pendem.

Puspayoga menambahkan, sampah dibuang ke sungai karena kebiasaan masyarakat yang menganggap kawasan ini sebagai teba atau bagian belakang rumah. Ditegaskan, paradigma itu harus dikikis dan segenap komponen masyarakat wajib bertanggung jawab terhadap kebersihan sungai. "Jika sungai bersih dan lancar, masyarakat sendiri yang akan merasakan manfaatnya. Sebaliknya, kalau alur sungai terhambat sampah dan memicu terjadinya bencana banjir tentu warga yang merasakan dampaknya," ujar penggemar anggrek itu.

Pejabat murah senyum ini menambahkan, upaya maksimal yang dilakukan pemerintah dalam memelihara alur-alur sungai tidak akan berhasil tanpa peran serta dan dukungan masyarakat. Apabila kebiasaan masyarakat menjadikan sungai sebagai keranjang sampah itu terus berlanjut, segala upaya pemerintah itu akan sia-sia. "Kebiasaan buruk itu harus secepatnya dihentikan. Jangan pernah lagi membuang sampah ke sungai dan tetaplah menjaga kebersihannya," pintanya.

Camat Denpasar Timur Drs. I Ketut Dunia mengatakan, pemeliharaan alur sungai merupakan salah satu kriteria utama dalam penilaian Adipura. "Menghadapi penilaian Adipura itu, Pemkot Denpasar bersama segenap komponen masyarakat wajib bekerja keras untuk mempertahankan trofi yang sudah diraih pada tahun 2007 untuk ketiga kalinya ini. Pemerintah sudah berupaya maksimal, namun dukungan dan partisipasi masyarakat sangat menentukan keberhasilan selanjutnya," tegasnya.

Sementara itu, Kadis PU Kota Denpasar Ir. Ketut Winarta menambahkan pihaknya senantiasa memantau alur-alur sungai yang ada di wilayah Denpasar. Dikatakan, kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah dan rutin melakukan gotong royong sangat menunjang keberhasilan pencapaian trofi Adipura tersebut. "Aliran Tukad Pendem bersumber dari Dam Oongan dan mengaliri Subak Puaji dan Dlod Sema. Jika aliran sungai tersumbat sampah, berarti kelancaran distribusi air untuk krama subak juga terhambat," katanya.

sumber:
http://www.balipost.com/balipostcetak/2007/9/24/b12.htm

Upacara Panca Wali Krama --- Membludak, ''Pemedek'' di Pura Penataran Ped

Semarapura (Bali Post) -
Pura
Penataran Ped Nusa Penida benar-benar menjadi lautan manusia sejak sebulan lalu. Setiap hari, ribuan pemedek dan pengayah tangkil ke pura yang terkenal keramat itu, berkaitan dengan pelaksanaan Karya Agung Panca Wali Krama, Pedana-danaan, Mamungkah, Prayascita Bumi, Pengenteg Linggih, Pengusaban Bhatara Turun Kabeh. Upacara agung yang pertama kali digelar serangkaian telah selesainya pemugaram sejumlah pelinggih di pura yang berada di Pakraman Ped tersebut, juga berkat pewisik yang diterima Ida Pedanda Kekeran di pura itu.

Sebagaimana Minggu (23/9) kemarin, ribuan pemedek asal Nusa Penida maupun masyarakat di Bali daratan tangkil melakukan persembahyangan. Juga hadir Bupati Klungkung Wayan Candra, Ketua DPRD berserta anggota dan unsur Muspida dan pejabat. Prosesi karya dimulai pukul 10.00 wita. Di-puput 15 sulinggih, 11 sulinggih muput tawur panca wali krama di bencingah agung, 2 sulinggih muput tawur Pedanan dan 2 sulinggih di jeroan (utama mandala).

Difungsikannya 11 sulinggih pada Tawur Panca Wali Krama diambil dari konsep pengider-ider bhuana (sembilan mata arah angin) ditambah urdah-ardah (atas-bawah) sebagai konsep keseimbangan. Upacara berlangsung khidmat dilengkapi berbagai tarian sakral seperti Tari Baris Gede di depan Pura Pelinggihan Ratu Gede, Tari Baris Pati di depan bencingah agung, Jangkang dan lainnya. Tak ketinggalan juga dipertontonkan Topeng Sidakarya.

Ketua 1 Baga Prahyangan Made Septarawan mengatakan karya Panca Wali Krama bermakna menciptakan kembali keseimbangan jagat raya (alam semesta). Melakukan pemujaan-pemujaan guna memohon pancaran sinar suci dari segala penjuru demi kesejahteraan/kemakmuran umat. Dilanjutkan Pedana-danaan sebagai simbol pemberkahan Ida Sang Hyang Widi Wasa kepada umatnya yang senantiasa memuja dan tulus ikhlas menghaturkan sembah kepada-Nya. Terakhir pewintenan.

Puncak karya berlangsung Rabu (26/9) mendatang, rencananya dihadiri Menbudpar Jero wacik. Nyejer selama tiga hari hingga Sabtu (29/9) mendatang. Tetapi, proses upacara akan tetap berlangsung hingga 28 Oktober 2007.

sumber:
http://www.balipost.com/balipostcetak/2007/9/24/b15.htm

Disesalkan, Listrik Padam di Bandara Ngurah Rai

Denpasar (Bali Post) -
Kalangan
DPRD Bali menyesalkan listrik sampai padam dua jam di Bandara Internasional Ngurah Rai. ''Terus terang kasus seperti ini membuat kami prihatin, sebab bandara internasional disinggahi warga seluruh dunia,'' kata Wakil Ketua Komisi II DPRD Bali Komang Budiarta, S.E., Minggu (23/9) kemarin.

Komang Budiarta mengatakan kasus listrik padam di Bandara Ngurah Rai bukan semata-mata menjadi tanggung jawab PLN tetapi manajemen PT Angkasa Pura I Bandara Ngurah Rai. Agar kasus semacam ini tak terulang lagi di masa mendatang, dia menyarankan pihak PT Angkasa Pura I Bandara Ngurah Rai memikirkan alternatif listrik lain untuk menjaga kemungkinan yang tak diinginkan. ''Ini sangat mempengaruhi citra Bandara Ngurah Rai sebagai bandara internasional. Kasus delay di bandara internasional mungkin sudah biasa terjadi. Namun listrik mati di bandara, ini kejadian luar biasa,'' katanya.

Dia mempertanyakan bagaimana pesawat yang hendak mendarat, tiba-tiba listrik di bandara padam. ''Ini kan bisa mengancam keselamatan penumpang,'' katanya. Demi menjaga citra pariwisata Bali yang makin pulih, dia berharap kasus listrik padam di Bandara Ngurah Rai hendaknya ditelusuri penyebabnya. Kemudian perlu dipikirkan listrik cadangan yang andal di luar sistem kelistrikan yang ada saat ini. ''Kami harapkan agar selalu ada cadangan yang andal sebab listrik mati sangat sulit diduga,'' katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Bali IGK Adiputera, S.H. dihubungi di tempat terpisah menyatakan kasus listrik padam di Bandara Ngurah Rai perlu diambil hikmahnya agar tak terulang lagi ke depan. Ia berjanji akan mengkoordinasikan persoalan ini ke Dirut PT Angkasa Pura I Bandara Ngurah Rai, Senin (24/9) ini. Dia juga sependapat ke depan perlu dipikirkan alternatif listrik cadangan demi kelancaran, keamanan dan keselamatan penumpang.

Listrik padam dua jam di Bandara Ngurah Rai terjadi Sabtu (22/9) sejak pukul 06.16 wita s.d. 08.00 wita. Akibatnya penumpang yang berjejal menunggu pemberangkatan pesawat kepanasan di ruang tunggu sebagaimana disampaikan Aloysius Jono Purwadi, calon penumpang Mandala.

Humas PT Angkasa Pura I Bandara Ngurah Rai Akhmad Munir menyatakan padamnya listrik dua jam di Bandara Ngurah Rai disebabkan adanya proses pergantian trafo. Pihaknya sudah memfungsikan genset dengan daya listrik sesuai kebutuhan. Namun anehnya, lampu penerangan dan alat pendingin tetap tak berfungsi sehingga calon penumpang yang kegerahan sulit bernapas. Satu-satunya cara, mereka memilih keluar ruangan. Bahkan Anggia Lubis, S.H., seorang pengacara, menumpahkan kejengkelannya atas kejadian yang tak mengenakkan ini. ''Bandara internasional kok begini. Lampu darurat saja tak ada. Saya sampai susah bernapas,'' katanya.

sumber:
http://www.balipost.com/balipostcetak/2007/9/24/b8.htm

Mengkhawatirkan Abrasi Pantai di Indonesia

Jakarta (Bali Post) -
Abrasi pantai Indonesia saat ini dinilai sudah mencapai tingkat mengkhawatirkan. Lebih dari 30 ribu kilometer pantai, atau sekitar 40 persen dari 80 ribu kilometer bibir pantai rusak akibat abrasi. Kondisi rawan ini menyebabkan potensi dampak bencana yang lebih buruk ketimbang sebelumnya. Bencana yang akan kerap terjadi antara lain gelombang besar, pasang laut luar biasa, erosi pantai, sedimentasi pantai, tsunami, angin badai, gempa bumi dan banjir.

Demikian disampaikan Dirjen Sumber Daya Air (SDA) Departemen PU Iwan Nursyirwan Diar di Jakarta, Sabtu (22/9). Disisi lain, lanjutnya, pemerintah hanya bisa menargetkan perbaikan bibir pantai yang rusak sepanjang 250 kilometer sampai tahun 2009. "Dari kerusakan yang begitu besar, kita memang tidak bisa berbuat banyak, selain luasnya pantai di Indonesia juga karena anggaran yang terbatas senilai Rp 423 milyar," ujarnya.

Untuk mencegah terjadinya abrasi yang lebih buruk lagi, saat ini pihaknya sudah melakukan pengamanan pantai, berupa pemecah gelombang, revetment, pembentukan tembok laut dan juga membentuk groin. "Groin ini dibangun di pantai pada posisi tegak lurus garis pantai agar dapat menahan amterial sediment," jelasnya.

Selain membuat groin, PU juga melakukan pengamanan pantai dengan menanam tanaman hutan pantai yang bisa meredam gaya lingkungan laut yang menimbulkan bencana."Namun bencana laut tsunami tidak dapat ditanggulangi oleh bangunan pengaman seperti groin ataupun hutan bakau," kata dia.

Adapun untuk kasus bencana gempa di Bengkulu, Iwan mengatakan terdapat sekitar 11 kilometer pantai yang rusak, terutama Bengkulu arah utara dari Bengkulu sampai Muko-Muko."Kerusakannya memang tidak lurus, tetapi di beberapa tempat sampai 3 meter ke daratan dan panjangnya mencapai 11 kilometer," urai Iwan seraya menambahkan untuk bibir pantai dari Muko-Muko sampai ke Padang tidak mengalami kerusakan berat.

Kepala Pusat Data, Statistik Informasi Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Saut Hutagalung menyatakan, belum dapat membenarkan atau penilaian menyalahkan bahwa 40 persen bibir pantai di Indonesia. Pihaknya akan melakukan verifikasi terlebih dahulu kepada direktorat bina pesisir serta konservasi yang selama ini menanganinya.

Menurutnya, rusaknya bibir pantai di perairan Indonesia akibat abrasi itu tidak terlepas dari geologi, kekuatan ombak laut serta pusaran angin menjadi faktor . Namun, kondisi tersebut juga kerap terjadi dikarenakan tidak kuatnya daya dukung tata ruang pesisir akibat menguatnya mobilitas ekonomi penduduk. Apakah itu berbentuk pengembangan properti, perumahanan atau industri.

sumber:
http://www.balipost.com/balipostcetak/2007/9/24/e1.htm

20 September 2007

Cuma Bisa Ngomong

Kemaren (Minggu, 16-Sep-2007) saya menghadiri laporan pertanggungjawaban (lpj) panitia Pengakraban Anggota Baru (PAB) suatu organisasi di kampus saya yang notabene saya juga anggotanya. Menurut saya sih, panitia udah cukup sukses ngadain acaranya, tapi yang namanya lpj pasti ada aja anggota yang mempertanyakan kinerja panitia, ngasi saran atau kritik buat pelaksanaan PAB tahun berikutnya yang astungakara akan lebih baik.
Namun, ada beberapa hal yang sangat saya sayangkan pada saat lpj kemaren. Ada 2 hal yang paling saya inget, yang pertama objektif, yang kedua subjektif,hehehehehe...karena alasan pribadi nih ceritanya.
Pertama, anggota baru yang dateng ke lpj kemaren adem ayem banget. Padahal uda berkali-kali dikasi kesempatan buat bertanya, mengkiritik, atau sekedar ngasi saran lah. Yang ada mereka malah asik ngobrol ga karuan. Padahal merekalah yang sebenarnya perlu banget menyimak lpj, soalnya kan mereka yang bakal jadi panitia tahun depan dan bakal ngejalanin susahnya nyari duit, susahnya ngatur peserta dan senior2 yang banyak maunya. Padahal udah berkali-kali juga saya komporin mereka buat kritis sama panitia, demi kebaikan mereka juga kan, biar mereka ga ngulangin kelalaian yang dilakuin panitia sekarang. Mungkin mereka masih belum menyadarinya, biar deh mereka repot sendiri pas jadi panitia nanti.
Nah yang kedua nih, pas sesi tanya jawab, ada nih seorang anggota yang nanyain masalah ketidakikutsertaan 2 orang peserta dalam acara malam waktu PAB. Kira-kira dia nanya kaya gini:
"saya cuma mau mempertanyakan tentang adanya peserta yang ga ikut acara malem karena alasan sakit. saya khususkan pertanyaan ini buat yang adek2 yang ngerasa ga ikut. apakah cuma karena alasan sakit panas kalian tega enak-enakan tidur di tenda sementara temen2 kalian begadang dan berjuang semalam suntuk buat ngikutin acara sampe selese?? dimana rasa kebersamaan kalian dek?? ini yang kalian bilang bahwa angkatan kalian sudah kompak??"
Saya yang bukan anggota baru (peserta) jadi sedikit tersenyum sinis (kesel,marah) denger pertanyaan orang itu.
<<>>
Waktu itu saya jadi panitia suatu acara pentas kesenian di kampus, kebetulan orang itu juga jadi panitia plus sebagai pengisi acaranya. Kejadiannya pas masa-masa latihan buat acara terjadi suatu dialog
Ketua panitia : we, xxxxx(saya), mana nih si yyyyyyy(orang itu)??kok uda jam segini belum juga dateng latihan??
Saya : wah ga tau nih, padahal dia uda tau koq sekarang ada latihan..
Ketua panitia : ya uda kamu jemput sekarang dia, ajakin buat latihan..
Saya : oke bosss
Waktu saya jemput orang itu dengan terpaksa ikut karena saya paksa untuk ikut,hehe. Di perjalanan terjadi dialog lagi
Orang itu : aduh, besok saya saya ada kuis, masak saya harus dateng latihan sih..saya kan belum belajar..kasihani donk saya
Saya : Saya juga besok ada kuis..sama sekali belum dapet belajar jg..kamu gak kasian juga sama saya..
Orang itu : lho itu kan urusan kamu, saya ga peduli kamu udah belajar atau belum, yang penting saya besok ada kuis dan belum belajar, saya males dateng latihan sekarang..
Saya : (menahan marah)
<<>>
Koq bisa-bisanya sih dia ngomong kebersamaan sama anggota baru, padahal dia sendiri sangat2 belum bisa mengaplikasikan arti kebersamaan, kebersamaan antara sesama temen seangkatan (oya, saya dan dia seangkatan), kebersamaan antara sesama panitia. Kebersamaan itu ya selalu sama-sama saat susah maupun senang. Itu sih cuma definisi pribadi saya tentang kebersamaan, ga tau deh apa anggapan orang itu tentang kebersamaan. Mungkin cuma sekedar kata-kata bullshit buat cari muka di depan adik2 anggota baru.
"dimana rasa kebersamaan kalian dek??"omong kosong,bullshit!!!

13 September 2007

baru belajar

halooo....
pertama kali nih buat blog di blogger...
rencananya blog ini mau tak pake buat cerita2tentang diri sendiri, musik, Bali, Hindu, lingkungan, linux dan jaringan komputer...
tapi namanya juga baru belajar, pasti banyak banget keburukan di blog ini...
kalo ada yang mau ngasi saran, usul, kritik buat pengembangan blog ini, makasi banget,bisa langsung aja di comment
gracias...